Tentang Gibran dan Rambut Gondrong…

Setiap pagi…ketika matahari mulai menyapa bumi dengan sinarnya yang hangat, kulihat dia berjalan dengan tas dorong yang ia bawa dan kepala yang bergerak lucu mengikuti langkah kakinya yang berirama. Tak lupa, senyuman tulus itu selalu ia sunggingkan dari bibirnya yang mungil. Gibran, begitu aku biasa memanggilnya. Walaupun dia sendiri belum fasih menyebut namanya, ia memanggil dirinya “Iban”. Ya…Gibran pemilik senyum tulus dan mata yang selalu tersenyum itu. Banyak kisah menarik tentang Gibran. Banyak..banyak sekali,bahkan mungkin aku sendiri sudah tidak ingat lagi, yang jelas..kisah-kisah menarik itu meninggalkan kesan dalam benakku,bahwa Gibran adalah sosok yang begitu unik dan smart.

Salah satu kisah yang kuingat adalah tentang rambut gondrongnya. Rambut gondrong yang tak pernah mau ia potong karena sebuah trauma. Trauma telinga kanan yang terluka oleh sabetan gunting ketika rambutnya dipotong beberapa waktu yang lalu,  sebelum rambutnya goondrong kembali. Wajar saja jika gunting itu melukai telinganya, karena ia tak mau sedikitpun membiarkan kepalanya diam tak menengok kiri dan kanan ketika sedang dipotong rambut. Trauma yang terasa hingga kini…hingga rambutnya gondrong kembali.

Sudah beberapa orang yang membujuknya agar mau memotong rambut. Bunda salah satunya. Bunda, sosok yang selama ini sangat ia patuhi, tak mampu meluluhkan hatinya agar mau memotong rambut. Bunda pun akhirnya menyerah…dan membagi kisahnya padaku, agar mau membantu membujuk Gibran untuk memotong rambutnya yang panjangnya sudah hampir melebihi kerah bajunya dan sering membuantya gerah.

Usaha-demi usaha kucoba, untuk membuat Gibran mau memotong rambutnya. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan bercerita tentang rambut gondrong yang dihuni banyak kutu,kepada Gibran. Dengan seksama Gibran mendengarkan ceritaku, dan lalu berkata..”Kan bisa pake shampoo bu Guru,biar kutunya hilang..”..kembali, aku menarik nafas..mencari rencana baru agar Gibran mau memotong rambutnya yang gondrong.

Waktu berlalu, rambut gondrong Gibranpun semakin menjadi. Hampir setiap hari aku mengajaknya ke tempat potong rambut. Hampir setiap hari juga Gibran menolaknya…

Hingga pada suatu hari…takdir baik itu akhirnya tiba. Saat Gibran terengah-engah mendekatiku dengan tetesan keringat diwajahnya. Pantas saja begitu, selama istirahat tadi dia berlari mengelillingi lapangan yang lumayan luas itu. Dia mendekatiku dan berkata. “Bu Guru panasss..”..aku hanya tersenyum, lalu aku sibakkan rambut dibahunya keatas agar ia bisa merasakan sejuknya angin meniup lehernya. Lalu aku berkata “kalo rambut Gibran pendek seperti ini, InsyaAllah gak akan panas, karena ada angin yang bisa lewat sini..”. Mata Gibran tampak menerawang,mencerna perkataanku. Entah apa yang sedang ia bayangkan. beberapa detik berlalu, tak seperti biasanya..ia mengeluarkan berbagai macam alasan untuk mementahkan pernyataanku. Kali ini ia hanya diam dan berlalu begitu saja..

Pagi itu, matahari bersinar hangat..seperti biasanya, aku menunggu malaikat-malaikat kecil itu dijembatan. Dan kembali kulihat, Gibran datang dengan tas dorong berwarna biru dan gerakan kepala yang mengikuti langkah kakinya yang berirama. Tak lupa senyuman tulus dan mata yang selalu tersenyum itu.Tetapi…ada yang berbeda, rambutnya kini sudah tidak melewati kerah baju lagi..rambutnya sudah tampak lebih rapih. Alhamdulillah….akhirnya ^_^. Ya…Gibran memang unik dan Smart,ia tak pernah mau melakukan hal-hal yang belum difahami kebenarannya, sampai takdir baik itu tiba. Saat dimana faham itu datang padanya melalui fakta yang begitu nyata. Begitulah ia belajar..dari apa yang ia rasa, bukan hanya sekedar kata-kata yang tak difahaminya. Belajar dari Gibran dan rambut gondrongnya..

Advertisements

Sukawana Curug Tilu